Perjalanan Pulang Juanda Malang – Menunggu di Bandara

Perjalanan Pulang Juanda Malang – Di sebuah bangku tunggu yang tenang, seseorang sedang menatap keramaian tanpa bicara sepatah kata pun. Melamun adalah hal yang pamali sebetulnya, tapi ia sedang tidak melamun.

Dia hanya sedang memikirkan sesuatu. Dalam kepalanya berkecamuk pikiran-pikiran yang ia sendiri tak tahu datang dari mana. Ia hanya tak bisa mengusir bahkan mengalihkan suasana yang kebetulan mendung di siang yang terik itu.

Ia duduk sendiri di antara tiang-tiang kekar penyangga gedung. Riuh orang bercengkerama dan suara papan pengumuman nampak ia acuhkan. Sementara bukunya yang digeletakkan di atas tas ranselnya seakan minta di baca.

Raut wajahnya tampak seperti pelamun. Orang yang tak mengenalnya pasti mengira dia gadis angkuh yang sulit didekati. Jika diamati dari dekat lagi, tidak ada yang menarik selain kornea matanya yang hitam pekat.

Baca Juga : 7 Keistimawaan Yogyakarta

Menunggu Travel Juanda Malang

Hening. Tak ada yang berubah sejak setengah jam yang lalu. Ia masih “berpikir” sebelum kemudian suara orang sekitar terasa hening. Sosok lain sedang melempar tepat ke arahnya sambil memegang ponselnya. Seorang laki-laki dengan kemeja dan sepatu kasual.

Sesaat pikiran di kepalanya mulai surut dan hatinya merasa lega. Ia hanya menoleh dengan tanpa ekspresi tepat saat laki-laki itu menyapanya.

Menunggunya? Ia bahkan tak pernah membuat janji untuk bertemu.

Lelaki itu tersenyum, tapi hanya sebentar. Kemudian ia menyapaku dilanjutkan dengan tanya “barang bawaannya yang ini saja?”. Tanpa bersuara aku hanya mengangguk.

“Mari, mobilnya di depan” dan aku mengikuti langkah kakinya tepat 2 langkah di belakangnya. Sejurus kemudian, aku berjumpa dengan kawan perjalanan yang juga di sapa oleh lelaki tadi.

Dan kami berjalan pulang Juanda ke Malang.